Selasa, 16 Oktober 2012

PEMIKIRAN AL-QABISI TENTANG PENDIDIKAN ISLAM

PEMIKIRAN AL-QABISI TENTANG PENDIDIKAN ISLAM
Oleh: Moh. Syafi'il Anam el-Syaff


MUQADDIMAH
 
A.     Latar Belakang
Sebagai homo educandum (makhluk yang dapat didik), homo education (makhluk pendidik), dan homo religious (makhluk beragama) mengindikasikan bahwa perilaku keberagamaan manusia, dapat diarahkan melalui pendidikan. Pendidikan yang dimaksud di sini adalah pendidikan Islam, yakni dengan cara membimbing dan mengasuhnya agar dapat memahami, menghayati ajaran-ajaran Islam, sehingga tampak perilaku keberagamaan secara simultan dan terarah pada tujuan hidup manusia. Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang sangat ideal,[1] karena menyelaraskan antara pertumbuhan fisik dan mental, jasmani dan rohani, pengembangan individu dan masyarakat, serta dunia dan akhirat.
Penanaman perilaku keberagamaan terhadap peserta didik sejak dini diharapkan memberikan pengaruh bagi pembentukan jiwa keagamaan. Besar kecil pengaruh yang dimaksud sangat tergantung berbagai faktor yang dapat memotivasi untuk memahami nilai-nilai agama, sebab pendidikan agama pada hakekatnya merupakan pendidikan nilai. Oleh karena itu, pendidikan agama lebih dititik beratkan pada bagaimana membentuk kebiasaan yang selaras dengan tuntunan agama.[2] Disinilah letak pentingnya rumusan kurikulum yang mampu mengakomodir dan terjewantahkan ke seluruh dimensi ranah pembelajaran di sekolah (madrasah). Letak permasalahan selanjutnya adalah kurikulum Pendidikan Islam yang selama ini diterapkan belum mampu secara maksimal menjadi tolok ukur utama keberhasilan pendidikan secara simultan.
Sistem pendidikan Islam memiliki keunikan tersendiri, akibat adanya aturan-aturan nilai yang terkadang dianggap menyimpang dari pemenuhan nilai-nilai pendidikan Islami. Salah satu yang urgen dikaji bahwa pendidikan berlaku kepada seluruh manusia, tidak mengenal adanya perbedaan streotipe jenis kelamin. Namun terdapat pandangan berbeda dalam kesamaan pria dan wanita dalam sistem pemerolehan pendidikan dengan memandang sisi posistif dan negatifnya.
Adalah al-Qabisi, meupakan salah satu tokoh yang consern dalam mencermati dunia pendidikan Islam, hal ini tertuang dalam pikiran-pikirannya yang sangat dikenal oleh umat Islam. Dalam tulisan ini akan diuraikan buah pokok-pokok pemikirannya tentang pendidikan Islam.

B.     Rumusan Masalah
1.  Bagaimana biografi al-Qabisi?
2.  Bagaimana pemikiran al-Qabisi tentang pendidikan Islam?
 
PEMBAHASAN


A.      Seputar Biografi al-Qabisi
Berikut adalah biografi singkat dari al-Qabisi, nama lengkap Al-Qabisiy  adalah Abu Al-Hasan Muhammad  bin Khalaf Al-Ma‘arifi Al-Qairawaniy.  Al-Qabisiy adalah penisbahan kepada sebuah bandar yang terdapat di Tunis. Kalangan ulama lebih mengenal namanya dengan sebutan Al-Qabisiy. Ia lahir di Kota Qairawan Tunisia  pada tahun 324 H-935M.[3] Literatur-literatur tidak menyebutkan  perihal kedudukan  orang tuanya. Barangkali Al-Qabisiy bukan dari keturunan ulama yang termasyhur, atau bangsawan ataupun hartawan sehingga asal keturunannya tidak banyak digambarkan sejarah, namun namanya terkenal setelah ia menjadi  ilmuan yang berpengaruh dalam dunia Islam.
Semasa kecil dan remajanya belajar di Kota Qairawan. Ia mulai mempelajari Al-Qur’an, hadits, fikih, ilmu-ilmu bahasa Arab dan Qira’at dari beberapa ulama yang terkenal di kotanya. Di antara ulama yang besar sekali memberi pengaruh pada dirinya adalah Abu Al-‘Abbas Al-Ibyani yang  amat menguasai fikih mazhab Malik. Al-Qabisiy pernah mengatakan tentang gurunya ini: “saya tidak pernah menemukan di Barat dan di Timur ulama seperti Abu al-‘Abbas. Guru-guru lain  yang banyak ia menimba ilmu dari mereka adalah  Abu Muhammad Abdullah bin Mansur Al-Najibiy, Abdullah bin Mansur Al-Ashal, Ziyad bin Yunus Al-Yahsabiy, Ali Al-Dibagh dan  Abdullah bin Abi Zaid.[4]
Al-Qabisiy pernah sekali melawat ke wilayah Timur Islam dan menghabiskan waktu selama 5 tahun, untuk menunaikan ibadah haji dan sekaligus  menuntut ilmu. Ia pernah menetap di bandar-bandar besar  seperti  Iskandariyah dan Kairo (Negara Mesir) serta Hejaz dalam waktu yang relatif tidak begitu lama. Di Iskandariyah ia  pernah belajar pada Ali bin Zaid Al-Iskandariy, seorang ulama yang masyhur dalam meriwayatkan hadits Imam Malik dan  mendalami mazhab fikihnya.[5] Al-Qabisiy mengajar pada  sebuah madrasah yang diminati oleh penunut-penuntut ilmu. Madrasah ini lebih memfokuskan pada ilmu hadits dan fikih. Pelajar-pelajar yang menuntut ilmu di madrasah ini banyak yang datang  dari Afrika dan  Andalus.  Murid-muridnya yang terkenal adalah  Abu Imran Al-Fasiy, Abu Umar Al-Daniy, Abu Bakar bin Abdurrahman, Abu Abdullah Al-Maliki, Abu Al-Qasim Al-Labidiy Abu Bakar ‘Atiq Al-Susiy dan lain-lain.[6]
Al-Qabisiy terkenal luas pengetahuannya dalam bidang hadits dan fikih di samping juga sastera Arab.[7] Ia menjadi rujukan ummat dan dibutuhkan untuk menjawab masalah-masalah hukum Islam, maka ia diangkat menjadi mufti dinegerinya. Sebenarnya, ia tidak menyukai jabatan ini, karena ia memiliki sifat tawadlu‘ (merendah diri), wara‘ (bersih dari dosa) dan zuhud (tidak mencintai kemewahan hidup duniawi).[8] Salah satu karyanya dalam bidang pendidikan  Islam yang sangat monumental adalah kitab “Ahwal al-Muta’allim wa Ahkam Mu’allimin wa al-Muta’allimin”, sebagai kitab yang terkenal pada abad 4 dan sesudahnya.
Konsep pemikiran tujuan pendidikannya Al-Qabisy secara umum, sebagaimana dirumuskan oleh al-Jumbulati, yaitu: (1) mengembangkan kekuatan akhlak anak, (2) menumbuhkan rasa cinta agama, (3) berpegang teguh terhadap ajarannya, (4) mengembangkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang murni, dan (5) anak dapat memiliki keterampilan dan keahlian pragmatis yang dapat mendukung kemampuan mencari nafqah.[9] Sedangkan Abudin Nata memahami tujuan pendidikan Islam al-Qabisy bercorak normatif, yaitu mendidik anak menjadi seorang muslim yang mengetahui ilmu agama, sekaligus mengamalkan agamanya dengan menerapkan akhlak mulia.[10] Dengan demikian, dipahami bahwa pandangan intisari pendidikan al-Qabisy menurut Abudin Nata bukan hanya pada ranah pengetahuan kognitif, namun sekaligus pada ranah afektif dan psikomotorik.

B.       Buah Pemikiran al-Qabisi tentang Pendidikan Islam
Dalam tulisan ini seperti telah disinggung di atas, adalah mencoba melihat bagaimana pemikiran al-qabisi tentang pendidikan Islam yang meliputi: pendidik, peserta didik, tujuan pendidikan, kurikulum, metode pembelajaran, dan lain-lain yang berhubungan dengan pendidikan.

1.    Lembaga pendidikan Anak-anak
Ali al-Jumbulati sebagaimana dikutip oleh Abuddin Nata menyebutkan bahwa Al-Qabisi memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan anak-anak yang berlangsung di kuttab-kuttab. Menurutnya mendidik anak-anak merupakan upaya strategis dalam rangka menjaga kelangusungan bangsa dan Negara.[11] Ada beberapa pemikiran beliau tentang pendidikan anak-anak ini (ta'lim as-Shibyan) yang menarik untuk didiskusikan.
Pertama, tentang jenjang pendidikan untuk anak-anak (marhalah ta'lim as-shibyan). Al-qabisi menetapkan kuttab sebagai lembaga pendidikan pertama (marhlah awal) bagi pesrta didik. Berbeda denga tokoh pendidik lain,A-Qabisi tidak membatasi usia anak yang akan memasuki pendidikan di kuttab-kuttab ini. Namun meskipun demikian Al-Qabisi melihat usia anak masuk sekolah seharusnya antara lima sampai tujuh tahun. Beliau tidak menetapkan batasan umur, karena perbedaan kematangan (psikologi) dan kecepatan pemahaman, menurutnya, ada pada setiap anak manusia.[12] Jadi, ada aspek psikologi  anak untuk menentukan apakah si anak telah berhak mendapatkan pendidikan di kuttab atau belum. Pada tingkatan pertama ini, anak-anak masih dididik dilembaga pendidikan kuttab sampai mereka balhig atau antara usia 13 sampai 15. Dengan demikian pendidikan menurut pemikiran al-Qabisi berkisar antara 7 dan 9 tahun. Menurut beliau ada emapt unsur jenjang pendidikan : a. Tempat belajar atau yang disebut dengan kuttab, b. Guru atau mu'allim, c. Peserta didik atau ash-Shabiy, d. al-Qur'an sebagai materi yang diajarkan di kuttab ini.[13]
Kedua, urgensi dan pembiayaan pendidikan. Sesuatu yang sangat pelik dan harus diperhatikan oleh pemerhati pendidikan menurutnya dalam, keengganan orang tua memasukkan anaknya dibangku pendidikan tampa alas an yang dibenarkan. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah biaya belajar anak tau biaya pendidik. Pemerintah idealnya, berkewajiban membuat anggaran penididikan dari harta Allah SWT, sebagaimana wajibnya membangun fasilitas ummat dalam menjalankan kewajiban mereka. Tetapi realitanya pemerintah melihat pendidikan anak adalah urusan indivu setiap manusia. Khusus bagi anak Yatim dan orang miskin, nampaknya beliau menggunakan pendekatan agama untuk mengatasinya.
Ketiga, gaji guru. Pada masalah ini beliau berpendapat bahwa pendapat Imam Malik dan Sahnun tentang berhaknya guru memperoleh gaji atau bayaran yang cukup, baik disaratkan sebelumnya ataupun tidak. Ibnu Mas'ud menjelaskan sebagaimana dikutip oleh al-Qabisi: “Tiga hal yang mesti ada bagi mansia: Pemimpin yang mengatur diantara mereka, seandainya tidak ada (pemimpin) maka manusia akan memakan manusia lainnya., membeli dan menjual mashaf, jika ini tidak ada akan runtuhlah kitab Allah Swt, dan yang terakhir guru yang mengajari anak mereka dan memperoleh gaji darinya, dan jika ini tidak ada, manusia akan menjadi bodoh”.

2.    Tujuan pendidikan Islam
Dr. Ahmad Fuad al-Ahwani, menjelaskan bahwa al-Qabisi tidak merincikan tujaun yang ingin dicapai oleh peserta didik dalam pembelajaran mereka terkecuali tujuan keagamaan (al-Ghardli al-Diniy) berbeda dengan tokoh lain yang membagi sasaran atau tujuan pendidikan kepada beberapa tujuan seperti tujuan agama, kemasyarakat atau social, kepuasan intektual, tujuan kajiwaan dan lain-lain.
Ali al-Jumbulati sebagaimana dikutip oleh Abuddin Nata, mengtakan secara umum tujuan pendidikan yang dipegangai oleh al-Qabisi adalah, mengembangkan kekuatan akhlak anak, menumbuhkan rasa cinta agama, berpegang teguh kepada ajaran-ajaran-Nya, serta berprilaku yang sesuai dengan nilai-niali agama yang murni.[14]
Untuk pendidikan anak-anak tujuan pendidikan mereka adalah mengenal agama jauh sebelum mereka mengenal yang lain, karena wajib hukumnya memberikan pelajaran agama kepada mereka demikian al-Qabisi. al-Ahwani menganalisis, ketika al-Qabisi memulai kitabnya dengan membahas iman dan Islam serta ditutup dengan pembahsan qiraat dan keutamaan membaca al-Qur'an, itu arti, pendidikan anak harus dimulai dengan mencetak mereka menjadi mukmin yang muslim dan kemudia yang terakhir menjadikan mreka sebagai seorang yang pembaca al-Qur'an.[15]

3.    Kurikulum pendidikan Islam
Kurikulum pendidikan Islam al-Qabisi digolongkan kepada dua bagian:
a.         Kurikulum Ijbari
Yaitu : secara harfiah berarti kurikulum yang merupakan keharusan atau kewajiban setiap anak. Kurikulum yang masuk ini adalah al-Qur'an, ada dua alas an beliau tentang penetapan al-Qur'an sebagai kurikulum, yaitu : pertama, al-Qur'an adalah Kalam Allah Swt. Dan Allah Swt dalam firman mengintruksikan semangat beribadah dengan membaca al-Qur'an. Kedua, menurutnya al-Qur'an adalah referensi kaum muslimin dalam masalah ibadah dan mu'amalat dan juga sesuatu yang mustahil mengenal  batasan syari'at agama yang benar tampa mengenal sumber agama itu sendiri yaitu al-Qur'an.[16]
Dari kurikulum wajib yang ditawarkan al-Qabisi tampak jelas adanya relefansi yang kuat antara tujuan pendidikan yang dibangun dan yang diinginkan oleh al-Qabisi dengan wacana kurikulum yang beliau maksudkan. Semua kurikulum itu, diharapkan mampu membawa peserta didik kepada suatu tujuan yaitu mengenal agama dan ibadah yang  diwajibkan kepada kaum muslimin. Uraian tentang  kurikulum menurut pandangan beliau di atas adalah untuk jenjang pendidikan dasar, yakni pendidikan di al-Kuttab, sesuai dengan jenjang yang telah di kenal di masa itu. Secara sederhana dapat di susun kurikulum Ijbari yang diinginkan oleh beliau sebagai berikut : al-Qur'an, Shalat, do'a, menulis (al-Kitabah), ilmu Nahwu, dan sebahagian Bahasa Arab.
b.         Kurikulum ikhtiyari
Menurut al-Qabisi ikhtiyari adalah : limu tentang berhitung, sya'ir, kisah-kisah masyarakat Arab, sejarah Islam, dan ilmu Nahwu serta bahasa Arab lengkap. Hal tersebut merelevansi kepada hadis nabi ان من الشعر احكمة ( "Sesungguhnya di dalam sya'ir itu ada hikmah (ilmu)". Selanjutnya ke dalam kurikulum ikhtiyari ini beliau memasukkan pelajaran keterampilan yang dapat menghasilkan produksi kerja yang mampu membiayai hidupnya dimasa depan.[17] Menurut al-Ahwani, kurikulum yang dikonsepkan al-Qabisi yaitu ada dua kesimpulan, pertama al-Qabisi mengabaikan aspek kejiwaan dan pertumbuhan dalam merumuskan kurikulumnya. Kedua, atidak memperhatikan (bahkan tidak memasukkan) ilmu-ilmu alam dan oleah raga dalam kurikulumnya.[18]

4.    Metode pembelajaran
Selain kurikulum al-Qabisi, beliau juga merumuskan metode pembelajaran dan itu di masukkan dalam kurikuylumnya. Langkah-langkah penting dalam menghafal al-Qur'an dan belajar menulis ditetapkan berdasarkan pemilihan waktu-waktu yang baik dan dapat mendorong  kecerdasan akalnya. al-Qabisi memulai pembelajaran melalui beberapa klasifikasi yaitu:
a.         Pada pagi hari Sabtu sampai Kamis itu dianggap satu kali pembelajaran.
b.    Guru dapat melihat langsung kegiatan peserta didiknya.
c.         Proses belajar mengajar diakhiri diahir pekan  dan dievaluasi sejauh mana perkembangan anak didik.[19]
Di samping anak-anak libur pada hari Jum'at. Menurut beliau selain hari Jum'at sebagai hari libur anak-anak termasuk juga hari Raya 'Idil Fitri dan terkadang sampai lima hari pada hari raya qurban. Disampaing kurikulum, metode, ada beberapa pemikiran beliau beliau yang juga berkaitan dengan pendidikan, yaitu :
a.         Pendidik, mu'allim atau guru menjadi perhatian tersendiri bagi beliau, kualitas guru menurut beliau tidak harus yang hafiz al-Qur'an, tetapi beliau lebih menekankan kesiapan guru dalam mengamalkan kandungan al-Qur'an, memahami rahasia dan makna didalamnya, melalui  pengusaan ilmu-ilmu yang membantu pemahaman ini. Dan juga pemikirannya tentang tidak bolehnya guru menghukum bodoh dan rendah intelektual para muridnya.
b.         Pemisahan murid laki-laki dan perempuan
c.         Larangan belajar non-muslim di kuttab milik orang Islam
d.        Dan yang lainnya.[20]
Secara implisit beliau memiliki konsep evaluasi, walaupun tidak seperti konsep dan sistem evaluasi sekarang.

 
KESIMPULAN


A.      KESIMPULAN
Nama lengkap Al-Qabisiy  adalah Abu Al-Hasan Muhammad  bin Khalaf Al-Ma‘arifi Al-Qairawaniy.  Al-Qabisiy adalah penisbahan kepada sebuah bandar yang terdapat di Tunis. Kalangan ulama lebih mengenal namanya dengan sebutan Al-Qabisiy. Ia lahir di Kota Qairawan Tunisia  pada tahun 324 H-935M. Al-Qabisiy terkenal luas pengetahuannya dalam bidang hadits dan fikih di samping juga sastera Arab. Ia menjadi rujukan ummat dan dibutuhkan untuk menjawab masalah-masalah hukum Islam, maka ia diangkat menjadi mufti dinegerinya. Sebenarnya, ia tidak menyukai jabatan ini, karena ia memiliki sifat tawadlu‘ (merendah diri), wara‘ (bersih dari dosa) dan zuhud (tidak mencintai kemewahan hidup duniawi). Salah satu karyanya dalam bidang pendidikan  Islam yang sangat monumental adalah kitab “Ahwal al-Muta’allim wa Ahkam Mu’allimin wa al-Muta’allimin”, sebagai kitab yang terkenal pada abad 4 dan sesudahnya.
Adapun intisari buah pemikiran al-Qabisi tentang pendidikan Islam antara lain adalah tentang lembaga pendidikan anak-anak, tujuan pendidikan Islam, Kurikulum pendidikan Islam, kurikulum pendidikan Islam al-Qabisi (meliputi kurikulum Ijbari dan kurikulum ikhtiyari), metode pembelajaran. Selain beberapa diktum tersebut al-Qabisi juga menyoroti tentang dunia pendidik, mu'allim pemisahan murid laki-laki dan perempuan, larangan belajar non-muslim di kuttab milik orang Islam dan yang lainnya. Secara implisit beliau memiliki konsep evaluasi, walaupun tidak seperti konsep dan sistem evaluasi sekarang.


[1] Pendidikan Islam mencakup kehidupan manusia seutuhnya, memperhatikan segi akidah, ibadah, serta akhlak, bahkan pendidikan dapat bermakna merubah dan memindahkan nilai kebudayaan kepada masayarakat dan individu. Hasan Langgulung, Pendidikan dan Peradaban Islam; Suatu Analisa Sosio-Psikologi (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1985), 3. Lihat juga Mappanganro,  Implementasi Pendidikan Islam di Sekolah (Ujungpandang: Yayasan Ahkan, 1996), 10.
[2] Dalam Jalaluddin, Psikologi Agama (Jakarta:  Grafindo Persada, 1996), 206. Dijelaskan pengaruh pembentukan jiwa keagamaan dan perilaku keberagamaan pada lembaga pendidikan, khususnya pada lembaga pendidikan formal banyak tergantung dari bagaimana karakteristik pendidikan agama yang diterapkan. Sekolah atau madrasah dalam perspektif Islam, berfungsi sebagai media realisasi pendidikan berdasarkan tujuan pemikiran, aqidah dan syariah dalam upaya penghambaan diri terhadap Allah dan mentauhidkan-Nya sehingga manusia terhindar dari penyimpangan fitrahnya.  Lihat juga Abdurrahman al-Nahdlawi,  Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, Terj. Shibabuddin (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), 152.
[3] Ali al-Jumbulati, Dirasatun Muqaranatun fit Tarbiyyatil Islamiyyah, terj. M. Arifin, dengan judul Perbandingan Pendidikan Islam (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), 76. Menurut data yang ada, bahwa ia lahir pada bulan Rajab, 224 M (13 Mei 936 M), dan wafat di negeri asalnya pada tanggal 3 R. Awal 403 H (23 Oktober 1012 M).
[4] Abdullah al-Amin al-Nu’my, Kaedah dan Tekhnik Pengajaran Menurut Ibnu Khaldun dan Al-Qabisy (Jakarta: t.pt., 1995), 184
[5] Ibid, 186-187, lihat juaga pada Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam (Jakarta: PT. Raja Grapindo Persada, 2003), 25-26.
[6] Al-Nu’my, Kaedah dan Tekhnik Pengajaran, 185.
[7] Selain dikenal sebagai pemikir dalam bidang pendidikan, ia pun dikenal sebagai ulama hadis dan fiqih yang terkemuka di samannya, bahkan dalam bidang hadis sebagai ulama terkemuka dalam menghafal hadis dan alim dalam sanad dan matan. Lihat Nata, Pemikiran Para Tokoh, 26,
[8] Setelah wafat Ibnu Syilun, mufti negeri Tunis, ia terpaksa mengisi jabatan yang kosong ini karena dialah yang pantas mengisinya. Keluasan ilmunya pernah dipuji oleh Ibnu Syilun di hadapan orang banyak: bukalah pintu fatwa kepadanya, karena ia termasuk orang yang wajib memberi fatwa. Ia lebih berilmu dari orang lain yang ada di Qairawan, maka setelah wafatnya, ia menerima jabatan tersebut. Ibid.
[9] Ali al-Jumbulati, Perbandingan Pendidikan Islam, Terj. M. Arifin (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), 76.
[10] Nata, Pemikiran Para Tokoh, 30
[11] Ibid., 27.
[12] Ahmad Fuad al-Ahwani, al-Tarbiyah fi al-ISLAM (Kairo:Dar al-Ma'Arif, 1980), 27.
[13] Ibid, 54.
[14] Nata, Pemikiran Para Tokoh, 28
[15] al-Ahwani, al-Tarbiyah,108.
[16] Ahmad Abdul Latief, al-Fikry al-Tarbawy al-Araby al-Islamiy (Tunisia:Maktab al-Araby, 1987), 771.
[17] Ibid, 165-175, lihat juga Nata, Pemikiran Para Tokoh, 31.
[18] al-Ahwani, al-Tarbiyah, 175.
[19] Nata, Pemikiran Para Tokoh, 34.
[20] Untuk lebih lengkapnya lihat al-Ahwani, al-Tarbiyah, 181-219.

0 komentar:

Poskan Komentar