SINOPSIS "JIWO J#NCUK" - SUJIWO TEJO







Penulis: Sujiwo Tejo
Editor: Resita Wahyu Febriantri
Cover: Jeffri Fernando
Ilustrasi isi/lukisan: Sujiwo Tejo
Penerbit: Gagasmedia
ISBN: 979-780-572-7
Cetakan pertama, 2012
196 halaman

SINOPSIS "JIWO J#NCUK" - SUJIWO TEJO

Ketika membaca endorsemen karya di atas, terpikir, terbesit dalam benak buku ini adalah buku romance. ternyata… J#ncuk! lebih dari itu. Buku tersebut dibagi menjadi empat bab: Amor, Metropolitan, Ceplas Ceplos, dan Twit Wayang.

Mari kita telanjangi dan urai satu per satu;

Amor, Pada bab pertama ini, budayawan yang berpenampilan nyentrik dan tidak jarang bicara ceplas ceplos ternyata bisa menulis bahasa yang biasa, nyantai tapi romantis. Sewaktu kuliah dulu, penulis bekerja sebagai penyiar radio, tiap kali dia siaran dia menceritakan orang yang disukainya, bagaimana perasaanya, bagaimana rupa di wanita tersebut, juga salah seorang teman laki-lakinya. Puncaknya ada di cerpen Retno Kusumawardani.
Puncak kangen paling dahsyat ketika dua orang tak saling menelepon
tak saling sms
BBM-an
dan lain-lain tak saling
namun diam-diam keduanya saling mendoakan.
Selain itu, dalang edan ini juga bercerita tentang perempuan lewat prosa dan puisi, menyentil sekali.
Bahwa perempuan suka es krim dan coklat, tapi lebih suka kepastian, alasan seorang istri tiba-tiba meminta cerai kepada suaminya, seorang perempuan yang pertama kali pisah dengan anak-anaknya, melihat cinta dari sorot mata seorang perempuan.
Bahwa perempuan lebih canggih dari makhluk angkasa luar. UFO cuma bisa naik piring terbang, perempuan bisa menyebabkan piring-piring berterbangan ke para suami yang nyebelin. Lebih dari itu, perempuan bisa mengajukan gugutan cerai.
Perempuan bagai belut, meski telah kau kenali segala lukuk liku tubuhnya, sukmanya selalu luput dari genggaman.
Bagi saya, kalau sampeyan ditanya kenapa mencintai seseorang, apa alasannya, dan sampeyan bisa menjawab tuntas, berarti sampeyan bukan sedang jatuh cinta.
Bukan itu namanya. Itu itung-itungan. Cinta tak pakai alasan-alasan.
Metropolitan, berbicara tentang Jakarta tidak akan ada habisnya, macetnya lah, banjirnya lah, sumpeknya lah, semua ada. Di sini penulis menyentil tentang pelecehan seksual yang ada di angkutan umun, banyaknya Mall yang ada di Jakarta, kebiasaan baca koran saat di WC, merenung tentang angka kendaraan roda empat yang membludak, silahturahmi, dan dunia otomotif.

Ceplas ceplos, berisi pendapat-pendapat Gila dia, pemikirannya tentang masa lalu dan sekarang. Dulu para artis hampir tidak mempunyai privasi, beda dengan artis sekarang kita bisa cuek ketika dia berada di samping kita. Ucapan selamat lebaran yang dikirim lewat SMS atau BBM broadcast, di mana dulunya lewat katu pos, walau pun sama-sama copas yang paling membedakan adalah di kartu pos ada nama orang yang dituju. Para orang tua yang berlomba-lomba memasukkan putra-putrinya ke sekolah internasional,
Padahal, menurut Einstein, logika cuma sanggup mengantarmu dari A ke B. Sementara imajinasi sanggup membawamu dari A ke tak terhingga…
Makna seorang guru, perempuan dan multitasking, komodo dan intra penciumannya, demokrasi, agama, pentingnya bernyanyi, dendam dan membalas dendam, mudik, kesehatan, komunikasi merubah banyak hal, ujian nasional, dan yang terakhir, salah satu pertanyaan besar ketika saya membaca twitnya @sudjiwotedjo yaitu pengertian Jancuk!
#JANCUK tuh ungkapan beragam dari kemarahan sampai keakraban, tergantung sikon seperti FUCK. tapi orang munafik langsung nyensor.
#jancuk ketika kita disuruh bangga jadi Indonesia tapi buku sejarah gak direvisi. Sejak SD dibilang Indonesia dijajah 350 tahun, mestinya berperang!
#jancuk tuh ketika teroris boleh ditembak tanpa sidang, tapi koruptor harus disidang dulu berbelit-belit dan abis itu gak jadi di-dor pula.
#jancuk itu asli kosakata Surabaya. Artinya Jaran Ngencuk. Dulu pernah dibuatkan seminar di Surabaya, bukan umpatan, cuma salam. Contoh: #Jancuk! Nang endi ae koe? (ke mana aja loe?) Muatan emosinya bukan jorok, tapi terkejut ketemu teman. Kalo bahasa Inggris: where the fuck have you been man? Bukan jorok, tapi suprised.
Twit wayang, nah, bagian yang saya suka, ingin tahu si dalang edan berbicara tentang filosofi hidup lewat wayang? di sinilah jawabannya. Kita akan tahu kenapa penulis sangat mengidolakan #Semar, bercerita tentang #DewaRuci, #Wisanggeni, #Yudistira, #Panakawan, #Petruk.
Gareng itu lambang keintelektualan dalam dirimu. Ketika kamu kritis mempertanyakan berbagai hal, kamu sedang meng-Gareng.
Ketika kamu sedang easy going dan take easy terhadap apa pun, kamu sedang mem-Petruk.
Ketika kamu sedang ingin memberontak terhadap apa pun, maka kamu sedang mem-Bagong.
Namun, biarlah #Semar dalam dirimu yang akan memoderatori kemunculan Panakawan dalam batinmu secara situsional.
Petruk: lambang kehendak, berhati-hati dalam menentukan keinginan, harus tetap rendah hati, dan waspada.
Bagian yang saya suka adalah bercerita tentang Yudistira.

Ketika kita membaca pemikiran Sujiwo Tejo dengan berbagai hal di sekitar kehidupannya, kesehariannya, kita akan mikir: ternyata benar juga ya pendapatnya, terlebih tentang perempuan itu dan tentang lainnya :p. Lalu kita juga akan merasakan bagaimana seorang Sujiwo Tejo sangat membenci korupsi, berbicara sinis tentang pemerintahan tapi juga bisa romantis soal cinta. Saya juga suka pemikirannya tentang tidak ada aturan untuk tiap pagi sarapan, makan sehari tiga kali yang benar ya makan ketika lapar dan berhenti ketika kenyang, pemikirannya sederhana tapi bermakna. Buku ini menarik, seperti yang tertulis di belakang sampul buku: observasinya terhadap detail kehidupan disampaikan dengan bahasa yang santai, namun tetap sarat nilai dan kerap “menyentil”.
Padahal, kalau saya nggak salah ingat, setiap agama punya semangat sosial. Malah ada yang bilang, sembahyang yang sebenarnya ialah berbuat kebajikan buat orang banyak. Sebaik-baiknya umat adalah yang paling bermanfaat buat orang lain. Saya sering ngetwit seperti ini: “Sujud tertinggi adalah membahagiakan orang lain.
Itu nggak ada jadwalnya. Itu sepanjang waktu. Ajaran ini juga kerap dibilang dalam wayang.
Sembahyang formal yang ada jadwal-jadwalnya terhadap Tuhan baru punya dilai di depan-Nya kalau sembahyang itu makin kuat menggerakkan orang untuk melakukan perbuatan bagi sesama. Sembahyang individual menjadi laksana generator yang membangkitkan energi sosial.
Baru kali ini saya membaca karya full dari budayawan nyentrik ini, sebelumnya pernah membaca salah satu cerpennya di  kumcer 1 Perempuan 14 Laki-Laki, belum mengenal gaya penulisannya dan kali ini saya suka, bagaimana dia bercerita dengan ‘halus’, mengalir, dan mengena, ada beberapa bagian di endingnya ada efek kejutnya, eksekusinya pas sekali. Ada juga sisipan lukisan karya penulis yang nyleneh, saya nggak pinter mengintepretasikan sebuah lukisan yang jelas lukisan Sudjiwo Tejo ini nggak jauh-jauh dari wayang dan Semar, Minim typo. Suka banget sama covernya, kayak sebuah permainan apa itu namanya? Boneka yang ada talinya trus digerak-gerakkan dengan tangan. Buku ini tidak hanya berisi kisah cinta tapi pemikiran-pemikiran dan perasaannya terhadap kehidupan sekitarnya.
Buku itu ditujukan kepada para Jancukers.
Selamat Membaca !

3.5 sayap untuk Jancuk!
[SALAM JANCUKERS !/ MSA].
Read More

Sabtu, 01 Desember 2012

Aku Bersabar Menanti Sampai Hari Ini

Aku Bersabar Menanti Sampai Hari Ini

Apakah engkau adalah engkau
Apakah engkau masih engkau
Apakah engkau tetap engkau
Sebab ketika ku sapa engkau
Yang menjawab bukanlah engkau

Aku yakinkan diriku apakah itu adalah dirimu
Apakah kamu tetap dirimu?
Aku tahu itu masih tampak wajahmu, tapi yang memancar itu bukan dirimu
Yang melangkah itu kakimu, tapi bukan pikiran dan niatmu
Yang omong itu mulutmu, tapi bukan hatimu
Yang berpidato itu bibirmu, tapi kata-kata itu bukan milikmu
Yang ambil keputusan itu tanda tanganmu, tapi kau tak berkuasa atas jari jemarimu

Allaaahu Akbar… Allahu Akbar…
La ilaha illallahu Allahu Akbar
Allahu Akbar wa lillahil-Hamd
Huruf-huruf kehidupanmu, tidak berasal usul dari sejarahmu
Yang engkau pamerkan kepadaku hanyalah cipratan tinja majikanmu

Tanahmu bukan lagi tanahmu
Rumahmu tidak mencerminkan semestamu
Negaramu sama sekali bukan milikmu
Dan sembahyangmu,
Tidak lagi kepada Tuhanmu

La ilaha illallahu Allahu Akbar
Allahu Akbar walillahil Hamd
Ya Mufattihal Abwab
Ya Musabbibal Asbab
Ya Muqollibal Qulub wal Abshor
Ya Mudabbirol Laili wan Nahar
Ya Muhawwil Ahwal,
Hawwil Haalana,
Ila ahsanil ahwal

Engkau budak di laut, budak di darat
Betapa menjijikkan otak kerdil, mental sekarat
Kau hidup dijauhi hampir semua malaikat
Dan tinggal selangkah pendek lagi Tuhan segera melaknat

Wahai engkau yang bukan engkau
Wahai diri yang bukan diri
Wahai makhluk hidup yang mati
Wahai bumi yang tak bermatahari
Wahai kegelapan yang tak terperi

Aku bersabar menanti sampai hari ini
Kapan…
Kapan…
Kapan matimu ini engkau akhiri?
Kemudian engkau lahir kembali menjadi bayi
Ku kawal kalian semua berkelana mencari jati diri
Sebagaimana kepada Tuhan engkau berjanji

Aku bersabar menanti sampai hari ini
Aku bersabar entah sampai kapan lagi
Aku bersabar entah sampai berapa kali putaran matahari membungkus bumi
Kapan matimu ini kalian akhiri
Kapan kematianmu ini engkau pungkasi

Engkau tidak sedang berjalan di altar kehidupan menuju mati
Tetapi engkau berjalan membebaskan dirimu
dari mati, mati, matimu di negeri ini
Menuju hidup, lahir kembali

Huwallah ulladzi la ilaha illa Hu,
Alim’ul Ghaybi wasy Syahada,
Huw’arrahmanur Rahim,
Huw’Allah ulladzi la ilaha illa Hu,
Al-Malikul quddusus salamul Mu’minul Muhayminul Azizul Jabbarul Mutakabbir,
Subhanallahi ammaa yusyrikun,
Huwallahul Khaliqul Bari’ul Mushawwiru lahul asma’ul husna,
Yusabbihu labu maa fi-samawati wal ardh,
Wa Huwal azizul hakim.

Aku bersabar menanti sampai hari ini
Kapan matimu ini engkau akhiri
Kemudian engkau lahir, engkau menjadi bayi matahari
Ku kawal engkau berkelana mencari jati dirimu
Sebagaimana kepada Tuhanmu, kalian semua dulu berjanji

La ilaaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzdzolimiin
La ilaha illallah.. La ilaha illah.. La ilaha illah
Hu.. Yaa Huu… Yaa Hu… Yaa Huu..
Huu.. Huu.. Huu…
Read more

Inna Ma'iya Rabby

“Inna ma’iya rabbi”, tutur Musa, Nabi ‘alaihissalam, untuk meyakinkan ummatnya bahwa Allah ada bersamanya. Muhammad Rasulullah saw, juga menggunakan kata yang sama – di gua Tsur, tatkala dikejar-kejar pasukan musuh – untuk menghibur dan memelihara iman Abu Bakar, sahabat beliau, Sayyid kita radiallahu’anhu : “La takhaf wa la tahzan, innallaha ma’ana”. Jangan takut jangan sedih, Allah ada menyertai kita.

Jadi, asal usulnya dari ma’a. Artinya, dengan, bersama, beserta. Ma’iyatullah, kebersamaan dengan Allah. Ma’iyah itu kebersamaan. Ma’ana bersama kita. Ma’iya, bersamaku. Lantas kata-kata dan bunyi Arab itu ‘kesandung’ oleh lidah etnik kita menjadi Maiya, atau Maiyah, atau Maiyahan.

Sedikit argumentasi dengan kata kebersamaan. Mengenai Ibu Bapakmu, hal anak cucu para keponakan dan sanak famili, tentu kau ucapkan inna ma’iya, sesungguhnya (mereka) bersamaku. Bersamaku artinya bukan ke mana-mana ubyang-ubyung bareng, makan bareng, mandi bareng. Maknanya substansial, haqiqiyah. Kalau engkau bersamaku berarti engkau adalah bagian dari hatiku. Engkau adalah salah satu serat-serat dari struktur perasaanku. Kalau engkau riang, aku gembira. Kalau engkau berduka, aku menderita. Kalau engkau disakiti, aku mengaduh. Kalau engkau disengsarakan, aku menangis. Kalau engkau ditimpa masalah, itu juga masalahku. Kalau engkau memerlukan, aku mengupayakan pemenuhan. Kalau engkau membutuhkan, aku mengusahakan keberesan. Engkau dan aku sayang menyayangi, kasih mengasihi, tolong menolong, bela membela satu sama lain.
Read more

Rabu, 17 Oktober 2012

Solusi Solutif Namun Tentative

Harus ADA & KESADARAN Akan Niat, Belajar, Untuk Adoptif, Adaptif, Kritis Konstruktif, Kreatif dan Inovatif, dan Komunikatif serta Aplikatif adalah Solusi Solutif Untuk Problema Apaapun saja [Segala Bidang/ Lini Kehidupan] sesuai Momentum yang dilandaskan Pada Nalar Islam.

[Mohammad Syafi'il Anam el-Syaff].
Read more

Selasa, 16 Oktober 2012

PEMIKIRAN AL-QABISI TENTANG PENDIDIKAN ISLAM

PEMIKIRAN AL-QABISI TENTANG PENDIDIKAN ISLAM
Oleh: Moh. Syafi'il Anam el-Syaff


MUQADDIMAH
 
A.     Latar Belakang
Sebagai homo educandum (makhluk yang dapat didik), homo education (makhluk pendidik), dan homo religious (makhluk beragama) mengindikasikan bahwa perilaku keberagamaan manusia, dapat diarahkan melalui pendidikan. Pendidikan yang dimaksud di sini adalah pendidikan Islam, yakni dengan cara membimbing dan mengasuhnya agar dapat memahami, menghayati ajaran-ajaran Islam, sehingga tampak perilaku keberagamaan secara simultan dan terarah pada tujuan hidup manusia. Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang sangat ideal,[1] karena menyelaraskan antara pertumbuhan fisik dan mental, jasmani dan rohani, pengembangan individu dan masyarakat, serta dunia dan akhirat.
Penanaman perilaku keberagamaan terhadap peserta didik sejak dini diharapkan memberikan pengaruh bagi pembentukan jiwa keagamaan. Besar kecil pengaruh yang dimaksud sangat tergantung berbagai faktor yang dapat memotivasi untuk memahami nilai-nilai agama, sebab pendidikan agama pada hakekatnya merupakan pendidikan nilai. Oleh karena itu, pendidikan agama lebih dititik beratkan pada bagaimana membentuk kebiasaan yang selaras dengan tuntunan agama.[2] Disinilah letak pentingnya rumusan kurikulum yang mampu mengakomodir dan terjewantahkan ke seluruh dimensi ranah pembelajaran di sekolah (madrasah). Letak permasalahan selanjutnya adalah kurikulum Pendidikan Islam yang selama ini diterapkan belum mampu secara maksimal menjadi tolok ukur utama keberhasilan pendidikan secara simultan.
Sistem pendidikan Islam memiliki keunikan tersendiri, akibat adanya aturan-aturan nilai yang terkadang dianggap menyimpang dari pemenuhan nilai-nilai pendidikan Islami. Salah satu yang urgen dikaji bahwa pendidikan berlaku kepada seluruh manusia, tidak mengenal adanya perbedaan streotipe jenis kelamin. Namun terdapat pandangan berbeda dalam kesamaan pria dan wanita dalam sistem pemerolehan pendidikan dengan memandang sisi posistif dan negatifnya.
Adalah al-Qabisi, meupakan salah satu tokoh yang consern dalam mencermati dunia pendidikan Islam, hal ini tertuang dalam pikiran-pikirannya yang sangat dikenal oleh umat Islam. Dalam tulisan ini akan diuraikan buah pokok-pokok pemikirannya tentang pendidikan Islam.

B.     Rumusan Masalah
1.  Bagaimana biografi al-Qabisi?
2.  Bagaimana pemikiran al-Qabisi tentang pendidikan Islam?
 
PEMBAHASAN


A.      Seputar Biografi al-Qabisi
Berikut adalah biografi singkat dari al-Qabisi, nama lengkap Al-Qabisiy  adalah Abu Al-Hasan Muhammad  bin Khalaf Al-Ma‘arifi Al-Qairawaniy.  Al-Qabisiy adalah penisbahan kepada sebuah bandar yang terdapat di Tunis. Kalangan ulama lebih mengenal namanya dengan sebutan Al-Qabisiy. Ia lahir di Kota Qairawan Tunisia  pada tahun 324 H-935M.[3] Literatur-literatur tidak menyebutkan  perihal kedudukan  orang tuanya. Barangkali Al-Qabisiy bukan dari keturunan ulama yang termasyhur, atau bangsawan ataupun hartawan sehingga asal keturunannya tidak banyak digambarkan sejarah, namun namanya terkenal setelah ia menjadi  ilmuan yang berpengaruh dalam dunia Islam.
Semasa kecil dan remajanya belajar di Kota Qairawan. Ia mulai mempelajari Al-Qur’an, hadits, fikih, ilmu-ilmu bahasa Arab dan Qira’at dari beberapa ulama yang terkenal di kotanya. Di antara ulama yang besar sekali memberi pengaruh pada dirinya adalah Abu Al-‘Abbas Al-Ibyani yang  amat menguasai fikih mazhab Malik. Al-Qabisiy pernah mengatakan tentang gurunya ini: “saya tidak pernah menemukan di Barat dan di Timur ulama seperti Abu al-‘Abbas. Guru-guru lain  yang banyak ia menimba ilmu dari mereka adalah  Abu Muhammad Abdullah bin Mansur Al-Najibiy, Abdullah bin Mansur Al-Ashal, Ziyad bin Yunus Al-Yahsabiy, Ali Al-Dibagh dan  Abdullah bin Abi Zaid.[4]
Al-Qabisiy pernah sekali melawat ke wilayah Timur Islam dan menghabiskan waktu selama 5 tahun, untuk menunaikan ibadah haji dan sekaligus  menuntut ilmu. Ia pernah menetap di bandar-bandar besar  seperti  Iskandariyah dan Kairo (Negara Mesir) serta Hejaz dalam waktu yang relatif tidak begitu lama. Di Iskandariyah ia  pernah belajar pada Ali bin Zaid Al-Iskandariy, seorang ulama yang masyhur dalam meriwayatkan hadits Imam Malik dan  mendalami mazhab fikihnya.[5] Al-Qabisiy mengajar pada  sebuah madrasah yang diminati oleh penunut-penuntut ilmu. Madrasah ini lebih memfokuskan pada ilmu hadits dan fikih. Pelajar-pelajar yang menuntut ilmu di madrasah ini banyak yang datang  dari Afrika dan  Andalus.  Murid-muridnya yang terkenal adalah  Abu Imran Al-Fasiy, Abu Umar Al-Daniy, Abu Bakar bin Abdurrahman, Abu Abdullah Al-Maliki, Abu Al-Qasim Al-Labidiy Abu Bakar ‘Atiq Al-Susiy dan lain-lain.[6]
Al-Qabisiy terkenal luas pengetahuannya dalam bidang hadits dan fikih di samping juga sastera Arab.[7] Ia menjadi rujukan ummat dan dibutuhkan untuk menjawab masalah-masalah hukum Islam, maka ia diangkat menjadi mufti dinegerinya. Sebenarnya, ia tidak menyukai jabatan ini, karena ia memiliki sifat tawadlu‘ (merendah diri), wara‘ (bersih dari dosa) dan zuhud (tidak mencintai kemewahan hidup duniawi).[8] Salah satu karyanya dalam bidang pendidikan  Islam yang sangat monumental adalah kitab “Ahwal al-Muta’allim wa Ahkam Mu’allimin wa al-Muta’allimin”, sebagai kitab yang terkenal pada abad 4 dan sesudahnya.
Konsep pemikiran tujuan pendidikannya Al-Qabisy secara umum, sebagaimana dirumuskan oleh al-Jumbulati, yaitu: (1) mengembangkan kekuatan akhlak anak, (2) menumbuhkan rasa cinta agama, (3) berpegang teguh terhadap ajarannya, (4) mengembangkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang murni, dan (5) anak dapat memiliki keterampilan dan keahlian pragmatis yang dapat mendukung kemampuan mencari nafqah.[9] Sedangkan Abudin Nata memahami tujuan pendidikan Islam al-Qabisy bercorak normatif, yaitu mendidik anak menjadi seorang muslim yang mengetahui ilmu agama, sekaligus mengamalkan agamanya dengan menerapkan akhlak mulia.[10] Dengan demikian, dipahami bahwa pandangan intisari pendidikan al-Qabisy menurut Abudin Nata bukan hanya pada ranah pengetahuan kognitif, namun sekaligus pada ranah afektif dan psikomotorik.

B.       Buah Pemikiran al-Qabisi tentang Pendidikan Islam
Dalam tulisan ini seperti telah disinggung di atas, adalah mencoba melihat bagaimana pemikiran al-qabisi tentang pendidikan Islam yang meliputi: pendidik, peserta didik, tujuan pendidikan, kurikulum, metode pembelajaran, dan lain-lain yang berhubungan dengan pendidikan.

1.    Lembaga pendidikan Anak-anak
Ali al-Jumbulati sebagaimana dikutip oleh Abuddin Nata menyebutkan bahwa Al-Qabisi memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan anak-anak yang berlangsung di kuttab-kuttab. Menurutnya mendidik anak-anak merupakan upaya strategis dalam rangka menjaga kelangusungan bangsa dan Negara.[11] Ada beberapa pemikiran beliau tentang pendidikan anak-anak ini (ta'lim as-Shibyan) yang menarik untuk didiskusikan.
Pertama, tentang jenjang pendidikan untuk anak-anak (marhalah ta'lim as-shibyan). Al-qabisi menetapkan kuttab sebagai lembaga pendidikan pertama (marhlah awal) bagi pesrta didik. Berbeda denga tokoh pendidik lain,A-Qabisi tidak membatasi usia anak yang akan memasuki pendidikan di kuttab-kuttab ini. Namun meskipun demikian Al-Qabisi melihat usia anak masuk sekolah seharusnya antara lima sampai tujuh tahun. Beliau tidak menetapkan batasan umur, karena perbedaan kematangan (psikologi) dan kecepatan pemahaman, menurutnya, ada pada setiap anak manusia.[12] Jadi, ada aspek psikologi  anak untuk menentukan apakah si anak telah berhak mendapatkan pendidikan di kuttab atau belum. Pada tingkatan pertama ini, anak-anak masih dididik dilembaga pendidikan kuttab sampai mereka balhig atau antara usia 13 sampai 15. Dengan demikian pendidikan menurut pemikiran al-Qabisi berkisar antara 7 dan 9 tahun. Menurut beliau ada emapt unsur jenjang pendidikan : a. Tempat belajar atau yang disebut dengan kuttab, b. Guru atau mu'allim, c. Peserta didik atau ash-Shabiy, d. al-Qur'an sebagai materi yang diajarkan di kuttab ini.[13]
Kedua, urgensi dan pembiayaan pendidikan. Sesuatu yang sangat pelik dan harus diperhatikan oleh pemerhati pendidikan menurutnya dalam, keengganan orang tua memasukkan anaknya dibangku pendidikan tampa alas an yang dibenarkan. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah biaya belajar anak tau biaya pendidik. Pemerintah idealnya, berkewajiban membuat anggaran penididikan dari harta Allah SWT, sebagaimana wajibnya membangun fasilitas ummat dalam menjalankan kewajiban mereka. Tetapi realitanya pemerintah melihat pendidikan anak adalah urusan indivu setiap manusia. Khusus bagi anak Yatim dan orang miskin, nampaknya beliau menggunakan pendekatan agama untuk mengatasinya.
Ketiga, gaji guru. Pada masalah ini beliau berpendapat bahwa pendapat Imam Malik dan Sahnun tentang berhaknya guru memperoleh gaji atau bayaran yang cukup, baik disaratkan sebelumnya ataupun tidak. Ibnu Mas'ud menjelaskan sebagaimana dikutip oleh al-Qabisi: “Tiga hal yang mesti ada bagi mansia: Pemimpin yang mengatur diantara mereka, seandainya tidak ada (pemimpin) maka manusia akan memakan manusia lainnya., membeli dan menjual mashaf, jika ini tidak ada akan runtuhlah kitab Allah Swt, dan yang terakhir guru yang mengajari anak mereka dan memperoleh gaji darinya, dan jika ini tidak ada, manusia akan menjadi bodoh”.

2.    Tujuan pendidikan Islam
Dr. Ahmad Fuad al-Ahwani, menjelaskan bahwa al-Qabisi tidak merincikan tujaun yang ingin dicapai oleh peserta didik dalam pembelajaran mereka terkecuali tujuan keagamaan (al-Ghardli al-Diniy) berbeda dengan tokoh lain yang membagi sasaran atau tujuan pendidikan kepada beberapa tujuan seperti tujuan agama, kemasyarakat atau social, kepuasan intektual, tujuan kajiwaan dan lain-lain.
Ali al-Jumbulati sebagaimana dikutip oleh Abuddin Nata, mengtakan secara umum tujuan pendidikan yang dipegangai oleh al-Qabisi adalah, mengembangkan kekuatan akhlak anak, menumbuhkan rasa cinta agama, berpegang teguh kepada ajaran-ajaran-Nya, serta berprilaku yang sesuai dengan nilai-niali agama yang murni.[14]
Untuk pendidikan anak-anak tujuan pendidikan mereka adalah mengenal agama jauh sebelum mereka mengenal yang lain, karena wajib hukumnya memberikan pelajaran agama kepada mereka demikian al-Qabisi. al-Ahwani menganalisis, ketika al-Qabisi memulai kitabnya dengan membahas iman dan Islam serta ditutup dengan pembahsan qiraat dan keutamaan membaca al-Qur'an, itu arti, pendidikan anak harus dimulai dengan mencetak mereka menjadi mukmin yang muslim dan kemudia yang terakhir menjadikan mreka sebagai seorang yang pembaca al-Qur'an.[15]

3.    Kurikulum pendidikan Islam
Kurikulum pendidikan Islam al-Qabisi digolongkan kepada dua bagian:
a.         Kurikulum Ijbari
Yaitu : secara harfiah berarti kurikulum yang merupakan keharusan atau kewajiban setiap anak. Kurikulum yang masuk ini adalah al-Qur'an, ada dua alas an beliau tentang penetapan al-Qur'an sebagai kurikulum, yaitu : pertama, al-Qur'an adalah Kalam Allah Swt. Dan Allah Swt dalam firman mengintruksikan semangat beribadah dengan membaca al-Qur'an. Kedua, menurutnya al-Qur'an adalah referensi kaum muslimin dalam masalah ibadah dan mu'amalat dan juga sesuatu yang mustahil mengenal  batasan syari'at agama yang benar tampa mengenal sumber agama itu sendiri yaitu al-Qur'an.[16]
Dari kurikulum wajib yang ditawarkan al-Qabisi tampak jelas adanya relefansi yang kuat antara tujuan pendidikan yang dibangun dan yang diinginkan oleh al-Qabisi dengan wacana kurikulum yang beliau maksudkan. Semua kurikulum itu, diharapkan mampu membawa peserta didik kepada suatu tujuan yaitu mengenal agama dan ibadah yang  diwajibkan kepada kaum muslimin. Uraian tentang  kurikulum menurut pandangan beliau di atas adalah untuk jenjang pendidikan dasar, yakni pendidikan di al-Kuttab, sesuai dengan jenjang yang telah di kenal di masa itu. Secara sederhana dapat di susun kurikulum Ijbari yang diinginkan oleh beliau sebagai berikut : al-Qur'an, Shalat, do'a, menulis (al-Kitabah), ilmu Nahwu, dan sebahagian Bahasa Arab.
b.         Kurikulum ikhtiyari
Menurut al-Qabisi ikhtiyari adalah : limu tentang berhitung, sya'ir, kisah-kisah masyarakat Arab, sejarah Islam, dan ilmu Nahwu serta bahasa Arab lengkap. Hal tersebut merelevansi kepada hadis nabi ان من الشعر احكمة ( "Sesungguhnya di dalam sya'ir itu ada hikmah (ilmu)". Selanjutnya ke dalam kurikulum ikhtiyari ini beliau memasukkan pelajaran keterampilan yang dapat menghasilkan produksi kerja yang mampu membiayai hidupnya dimasa depan.[17] Menurut al-Ahwani, kurikulum yang dikonsepkan al-Qabisi yaitu ada dua kesimpulan, pertama al-Qabisi mengabaikan aspek kejiwaan dan pertumbuhan dalam merumuskan kurikulumnya. Kedua, atidak memperhatikan (bahkan tidak memasukkan) ilmu-ilmu alam dan oleah raga dalam kurikulumnya.[18]

4.    Metode pembelajaran
Selain kurikulum al-Qabisi, beliau juga merumuskan metode pembelajaran dan itu di masukkan dalam kurikuylumnya. Langkah-langkah penting dalam menghafal al-Qur'an dan belajar menulis ditetapkan berdasarkan pemilihan waktu-waktu yang baik dan dapat mendorong  kecerdasan akalnya. al-Qabisi memulai pembelajaran melalui beberapa klasifikasi yaitu:
a.         Pada pagi hari Sabtu sampai Kamis itu dianggap satu kali pembelajaran.
b.    Guru dapat melihat langsung kegiatan peserta didiknya.
c.         Proses belajar mengajar diakhiri diahir pekan  dan dievaluasi sejauh mana perkembangan anak didik.[19]
Di samping anak-anak libur pada hari Jum'at. Menurut beliau selain hari Jum'at sebagai hari libur anak-anak termasuk juga hari Raya 'Idil Fitri dan terkadang sampai lima hari pada hari raya qurban. Disampaing kurikulum, metode, ada beberapa pemikiran beliau beliau yang juga berkaitan dengan pendidikan, yaitu :
a.         Pendidik, mu'allim atau guru menjadi perhatian tersendiri bagi beliau, kualitas guru menurut beliau tidak harus yang hafiz al-Qur'an, tetapi beliau lebih menekankan kesiapan guru dalam mengamalkan kandungan al-Qur'an, memahami rahasia dan makna didalamnya, melalui  pengusaan ilmu-ilmu yang membantu pemahaman ini. Dan juga pemikirannya tentang tidak bolehnya guru menghukum bodoh dan rendah intelektual para muridnya.
b.         Pemisahan murid laki-laki dan perempuan
c.         Larangan belajar non-muslim di kuttab milik orang Islam
d.        Dan yang lainnya.[20]
Secara implisit beliau memiliki konsep evaluasi, walaupun tidak seperti konsep dan sistem evaluasi sekarang.

 
KESIMPULAN


A.      KESIMPULAN
Nama lengkap Al-Qabisiy  adalah Abu Al-Hasan Muhammad  bin Khalaf Al-Ma‘arifi Al-Qairawaniy.  Al-Qabisiy adalah penisbahan kepada sebuah bandar yang terdapat di Tunis. Kalangan ulama lebih mengenal namanya dengan sebutan Al-Qabisiy. Ia lahir di Kota Qairawan Tunisia  pada tahun 324 H-935M. Al-Qabisiy terkenal luas pengetahuannya dalam bidang hadits dan fikih di samping juga sastera Arab. Ia menjadi rujukan ummat dan dibutuhkan untuk menjawab masalah-masalah hukum Islam, maka ia diangkat menjadi mufti dinegerinya. Sebenarnya, ia tidak menyukai jabatan ini, karena ia memiliki sifat tawadlu‘ (merendah diri), wara‘ (bersih dari dosa) dan zuhud (tidak mencintai kemewahan hidup duniawi). Salah satu karyanya dalam bidang pendidikan  Islam yang sangat monumental adalah kitab “Ahwal al-Muta’allim wa Ahkam Mu’allimin wa al-Muta’allimin”, sebagai kitab yang terkenal pada abad 4 dan sesudahnya.
Adapun intisari buah pemikiran al-Qabisi tentang pendidikan Islam antara lain adalah tentang lembaga pendidikan anak-anak, tujuan pendidikan Islam, Kurikulum pendidikan Islam, kurikulum pendidikan Islam al-Qabisi (meliputi kurikulum Ijbari dan kurikulum ikhtiyari), metode pembelajaran. Selain beberapa diktum tersebut al-Qabisi juga menyoroti tentang dunia pendidik, mu'allim pemisahan murid laki-laki dan perempuan, larangan belajar non-muslim di kuttab milik orang Islam dan yang lainnya. Secara implisit beliau memiliki konsep evaluasi, walaupun tidak seperti konsep dan sistem evaluasi sekarang.


[1] Pendidikan Islam mencakup kehidupan manusia seutuhnya, memperhatikan segi akidah, ibadah, serta akhlak, bahkan pendidikan dapat bermakna merubah dan memindahkan nilai kebudayaan kepada masayarakat dan individu. Hasan Langgulung, Pendidikan dan Peradaban Islam; Suatu Analisa Sosio-Psikologi (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1985), 3. Lihat juga Mappanganro,  Implementasi Pendidikan Islam di Sekolah (Ujungpandang: Yayasan Ahkan, 1996), 10.
[2] Dalam Jalaluddin, Psikologi Agama (Jakarta:  Grafindo Persada, 1996), 206. Dijelaskan pengaruh pembentukan jiwa keagamaan dan perilaku keberagamaan pada lembaga pendidikan, khususnya pada lembaga pendidikan formal banyak tergantung dari bagaimana karakteristik pendidikan agama yang diterapkan. Sekolah atau madrasah dalam perspektif Islam, berfungsi sebagai media realisasi pendidikan berdasarkan tujuan pemikiran, aqidah dan syariah dalam upaya penghambaan diri terhadap Allah dan mentauhidkan-Nya sehingga manusia terhindar dari penyimpangan fitrahnya.  Lihat juga Abdurrahman al-Nahdlawi,  Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, Terj. Shibabuddin (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), 152.
[3] Ali al-Jumbulati, Dirasatun Muqaranatun fit Tarbiyyatil Islamiyyah, terj. M. Arifin, dengan judul Perbandingan Pendidikan Islam (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), 76. Menurut data yang ada, bahwa ia lahir pada bulan Rajab, 224 M (13 Mei 936 M), dan wafat di negeri asalnya pada tanggal 3 R. Awal 403 H (23 Oktober 1012 M).
[4] Abdullah al-Amin al-Nu’my, Kaedah dan Tekhnik Pengajaran Menurut Ibnu Khaldun dan Al-Qabisy (Jakarta: t.pt., 1995), 184
[5] Ibid, 186-187, lihat juaga pada Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam (Jakarta: PT. Raja Grapindo Persada, 2003), 25-26.
[6] Al-Nu’my, Kaedah dan Tekhnik Pengajaran, 185.
[7] Selain dikenal sebagai pemikir dalam bidang pendidikan, ia pun dikenal sebagai ulama hadis dan fiqih yang terkemuka di samannya, bahkan dalam bidang hadis sebagai ulama terkemuka dalam menghafal hadis dan alim dalam sanad dan matan. Lihat Nata, Pemikiran Para Tokoh, 26,
[8] Setelah wafat Ibnu Syilun, mufti negeri Tunis, ia terpaksa mengisi jabatan yang kosong ini karena dialah yang pantas mengisinya. Keluasan ilmunya pernah dipuji oleh Ibnu Syilun di hadapan orang banyak: bukalah pintu fatwa kepadanya, karena ia termasuk orang yang wajib memberi fatwa. Ia lebih berilmu dari orang lain yang ada di Qairawan, maka setelah wafatnya, ia menerima jabatan tersebut. Ibid.
[9] Ali al-Jumbulati, Perbandingan Pendidikan Islam, Terj. M. Arifin (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), 76.
[10] Nata, Pemikiran Para Tokoh, 30
[11] Ibid., 27.
[12] Ahmad Fuad al-Ahwani, al-Tarbiyah fi al-ISLAM (Kairo:Dar al-Ma'Arif, 1980), 27.
[13] Ibid, 54.
[14] Nata, Pemikiran Para Tokoh, 28
[15] al-Ahwani, al-Tarbiyah,108.
[16] Ahmad Abdul Latief, al-Fikry al-Tarbawy al-Araby al-Islamiy (Tunisia:Maktab al-Araby, 1987), 771.
[17] Ibid, 165-175, lihat juga Nata, Pemikiran Para Tokoh, 31.
[18] al-Ahwani, al-Tarbiyah, 175.
[19] Nata, Pemikiran Para Tokoh, 34.
[20] Untuk lebih lengkapnya lihat al-Ahwani, al-Tarbiyah, 181-219.
Read more